Dear Me : Best Friend for 15 Years and More

Dear Lita,

Kesel gak sih kamu lihat industri fashion sudah ‘merusak’ nikmatnya menggunakan jilbab? Sebagai pengguna jilbab sejak hari pertama haid, berarti Alhamdulillah sudah 15 tahun lho, kita udah ngerasain banget kan ‘jatuh bangun’ bersama jilbab.

Inget gak waktu SMP, masa dimana ‘seharusnya’ senang mix and match, pake baju lucu ini itu, mini dress atau rok lucu, eh kita ‘stuck‘ sama jilbab kain/bergo + celana jeans/bahan + kaos/kemeja. Inget gak pikiran kita waktu itu, “Duh, kenapa ya kok aku gak bisa pake baju lucu-lucu itu.”

Inget juga gak waktu kuliah ada yang ngeliatin gak santai cuma gara-gara kamu pakai jilbab dan kita cuma bisa mikir, “Ihh ini orang ngeliatinnya biasa aja, deh.. Kenapa, sih?”

Iya, kenapa? Karena, kita memilih untuk bersama sahabat terbaik Muslimah sepanjang masa, jilbab. Kita memilih untuk menjadi ‘berbeda’ saat tidak ada yang menyadari, saat belum berubah menjadi industri. Kita bersabar bersama dan percaya untuk sesuatu yang lebih baik, hanya untuk menggapai ridho Ilahi.

Alhamdulillah. Kita dan jilbab bukan dijadikan bersama karena imut, cantik, lucu, warna warni, trend, stylish, atau bahkan syar’i. Kita dan jilbab dijadikan bersama karena tanda kasih sayang kita ke Sang Maha Pencipta. Semua itu yang membuat kita selalu bertahan, kuat, positive thinking, dan positive feeling.

But, what do we have now?

Jilbab, sahabat kesayangan kita itu sudah jadi ‘bahan industri’. Jilbab yang hanya memiliki 1 definisi bagi kita, yaitu sahabat, sekarang memiliki banyak definisi lain:

1. Jilbab Konvensional = Jilbab ala Mbak Rohis
2. Jilbab Syar’i = Jilbab panjang, hampir menutup sebagian tubuh
3. Jilbab Gaul = Jilbab ala Hijabers
4. Jilbab Cadar = Jilbab + cadar yang menutupi muka
5. Jilbab ……….

Entah definisi apalagi yang sahabat terbaik kita ini miliki. Entah siapa yang memulai, tetapi justru semua ini malah membuat sahabat kita semakin ‘terkotak-kotak’.

Kebahagiaan berjilbab justru terlupakan. Kadang, seorang Muslimah tidak menjadi dirinya sendiri akibat ‘sindiran’ yang justru, sedihnya, datang dari saudarinya sendiri.

“Kalau ke acara ini, kamu baiknya dandan ala hijabers, biar kece!”
“Ah dia jilbabannya konvensional banget, gak cocok buat acara fashion kita.”
“Jilbab syar’i ini yang akan melindungi kamu dari pandangan pria. Coba liat yang jilbab gaul itu, kamu yang perempuan aja melirik, apalagi yang pria?”

Innalillahi. Kenapa kita justru malah menyerang saudari sendiri?

Proses untuk menutup aurat itu berbeda bagi setiap individu. Hargailah. Bantulah. Dukunglah.

Jangan sampai.. Naudzubillahimindzalik.. Kita justru mengurangi niat baiknya untuk menutup aurat karena kata-kata ‘sindiran’ yang tidak penting itu.

Jika mereka yang belum menutup aurat sering berucap, “Ingin jilbabi hati dulu, baru jilbabi diri..”, lantas apakah kita yang sudah berjilbab diri malah lupa untuk ‘menjilbabi’ hati? Setiap ucapan, postingan, sindiran, akan membuahkan hasil.. Pilihannya hanya 2, apakah hasil yang baik atau buruk.

Dear Lita,

Jadilah diri kamu sendiri apa adanya. Selalu. Biar saja Mbak Salaam UI itu melihat kamu dari ujung kaki sampai ujung kepala, hanya karena kamu menggunakan jeans, kaos, dan jilbab segiempat dari bahan paris. Biar saja Mbak dengan jilbab panjang itu melirik kamu, hanya karena jilbab yang menutup dada bukan hampir seluruh tubuh sepertinya. Biar saja si hijabers itu ngomongin kamu, hanya karena jilbab kamu peniti di tengah dan dikasih bros ke kiri bukan dipentul lilit kanan kiri.

image

Mereka, sudah menemukan sahabat terbaiknya sendiri. Tapi, apa gunanya sendiri, padahal kita lebih baik bersama? Yuk.. Jadilah kita saling bersahabat, bukan menjatuhkan. Masih banyak Muslimah yang belum menemukan sahabat terbaiknya, inilah tugas kita yang sesungguhnya. Sudah tidak ada waktu bagi kita untuk berdiri sendiri, Muslimah yang bersama akan lebih kuat berdiri.

“Orang mukmin itu bagi mukmin lainnya seperti bangunan, sebagiannya menguatkan sebagian yang lain.”  (HR. Imam Bukhari, Muslim, dan An Nasa’i)

XOXO
Your Best Friend for 15 Years and More

[Saat makin ‘gerah’ dengan berbagai definisi yang ada. Can’t we just life our live only for Allah SWT?]

2 thoughts on “Dear Me : Best Friend for 15 Years and More

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s