Sang Penghalau Galau

Saya sering berpikir bahwa sebenarnya apa arti dari galau. Tiba-tiba saja dalam dua sampai tiga tahun terakhir kata galau telah menambah perbendaharaan kata kita, telah mewarnai hari-hari kita dan terkesan menjerumuskan kita. Jika sudah begitu, kesalahan harus ditujukan kepada siapa? Kata “Galau“ ataukah kita yang merasa “Galau“?

Tetapi, era teknologi yang luar biasa saat ini membuat galau antara semakin eksis ataupun pesimis. Terlebih dengan social media yang semakin menjamur, mungkin saja kata yang paling sering diungkapkan adalah “Galau“. Banyak yang mengartikan galau sebagai keadaan saat seseorang sedang tidak bersemangat, mood berantakan, bingung ingin melakukan apa ataupun depresi. Ragam arti galau dan perkembangan social media adalah sesuatu yang sangat sesuatu, kalau kata Princess Syahrini :p

social_media_marketing

Jujur, social media membantu saya untuk melewati keadaan yang bisa diartikan sebagai galau. Hal tersebut sangat terbukti saat saya mengerjakan skripsi satu tahun yang lalu. Stress, tingkat kepanikan yang tinggi, dan bingung ingin mengungkapkannya ke siapa, karena teman-teman pun sedang skripsi semua juga, sama mencurahkan hasrat tersebut melalui twitter. Bahkan saya menciptakan satu hashtag baru dan unik yang bertemakan galau dan skripsi, yaitu #GAMIS alias GAlau MIkirin Skripsi. Hal tersebut benar-benar kesenangan tersendiri dan penyembuh efektif di masa skripsi.

Twitter pun membantu saya untuk mengungkapkan isi hati secara instan, baik itu untuk sekedar “mengoceh” ataupun curhat colongan. Jumlah kapasitas kata yang terbatas di twitter merupakan tantangan tersendiri untuk dapat memilih kata-kata yang tepat dengan susunan yang sesuai sehingga dapat terjalin kalimat yang sesuai keinginan kita. Kalimat tersebut sebenarnya merupakan penggambaran keadaan kita saat itu, apa yang ingin kita sampaikan bahkan sesuatu yang tidak dapat kita ungkapkan di dunia nyata.

Meskipun twitter sepertinya sedang merajai dunia maya social media, jangan pernah lupakan keberadaan facebook. Kemudahan yang facebook berikan untuk dapat terkoneksi dengan teman-teman baik lama, baru ataupun kenalan di facebook sekalipun patut diacungi jempol. Facebook, menurut saya, adalah social media pertama yang dapat menyentuh seluruh aspek pertemanan, pergaulan, persaudaraan, dan penyembuh melalui ungkapan juga tulisan, walaupun sebelumnya pun telah ada Friendster.

Update status facebook yang tidak memiliki batas kata yang jelas seperti twitter dulunya, atau mungkin masih sampai sekarang bagi beberapa orang, adalah media tulis yang ampuh untuk mengungkapkan isi hati. Jika belum puas hanya dengan update status, bisa tulis note yang kapasitasnya sama seperti blog.

Sebelum menjadi seorang blogger, saya adalah seorang penulis dan pembaca setia note facebook. Ragam tulisan note facebook yang bebas dan variatif adalah kesempatan terbesar bagi saya untuk sharing mengenai apapun. Entah itu perasaan saya, keadaan yang saya alami dan ilmu baru yang saya dapatkan di Internet yang ingin saya bagikan, semua saya tulis di note facebook.

Lalu, saat dunia blogging mulai menarik perhatian saya, kebebasan mengungkapkan isi hati, perasaan, keadaan, dan berbagi ilmu yang saya miliki semakin liar. Hehe. Inginnya apa saja diupdate ke blog. Meskipun awalnya saya bingung ingin menulis apa, akhirnya saya buka semua arsip tulisan di komputer dan saya update di blog. Seakan tidak ada yang melihat blog saya, tulisan mengenai bertemakan galau seperti, cinta yang kandas, keadaan kehidupan yang tidak menyenangkan, keinginan untuk merasakan cinta, hingga kegiatan perkuliahan yang menyebalkan, semua saya update di blog.

Tiga media dunia maya tersebut adalah media saya untuk mengungkapkan apapun. Tulisan, foto, video, quote, omelan, cacian, pujian, penghargaan, dan curahan hati, entah mengapa menjadi tenang setelah diupdate. Sangat anak internet sekali, yaa.. hehe :)

Malu? Hmm.. rasanya sih tidak. Tetapi, kalau ada yang berkomentar mengenai update ataupun tulisan saya yang bertemakan galau, barulah saya malu dan sadar bahwa semua orang bisa membaca apapun yang saya tuliskan di dunia maya terlebih di social media.

Satu saat, pernah saya iseng dan melakukan search google terhadap nama saya sendiri. Hasilnya adalah saya menemukan banyak sekali nama saya di berbagai website dan social media. Saya sampai tertawa sendiri. Sepertinya, internet khususnya social media adalah teman terbaik saya dalam bercerita. Membantu saya menulis segala yang saya inginkan tanpa ada koreksi terlebih judgment. Menuntun saya keluar dari masa galau nan kelam. Memperlihatkan kepada saya dunia baru yang belum saya capai. Lalu, mempercayai saya untuk bisa menjadi lebih baik.

Pada akhirnya, jika ada yang mempertanyakan apakah arti sebenarnya dari galau, saya tidak peduli. Saya tidak perlu mengetahui arti galau karena saya memiliki internet dengan berbagai social media untuk membantu saya menghalaunya.

31/5/2012

22.55 WIB

One thought on “Sang Penghalau Galau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s