#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-6 : Untuk Si Ibu Sang Pemberi Semangat

Untuk si Ibu yang tetap semangat bekerja,

Ini surat untuk Anda :)

Ini adalah cerita saat saya masih bekerja untuk salah satu perusahaan industri. Saat itu baru saja hari ke-3, tetapi sudah menjadi hari yang benar-benar penuh hikmah. Kegalauan sebagai anak baru yang tidak ada kerjaan (gabut) dan teman, membuat saya malas untuk berangkat. Maunya ngedumel saja… Mengeluh terus. Dan, sepertinya kereta pun menjawabnya. Saya sampai di stasiun jam 7, tetapi baru mendapatkan kereta jam 8. Sepertinya si kereta juga ikut-ikutan malas.

Di kereta, seperti biasa, luar biasa penuh. Dorong depan belakang, gencet dimana-mana. Mau mengeluh lagi juga sudah malas, akhirnya saya berusaha untuk bersabar, bersyukur, dan menerima keadaan apa adanya dengan berdzikir.

Fyi, sebagai anak yang 12 tahun sekolah di sekolah Islam, saya hafal Al-Ma’tsurat dan terbiasa untuk membacanya setiap pagi dan sore. Jadi, sepanjang perjalanan di kereta, saya menggumamkan Al-Ma’tsurat dan begitu selesai, saya lanjutkan dengan berdzikir. Hal ini saya lakukan supaya hati lebih nrimo dan badan lebih rileks menerima apapun yang terjadi.

Ternyata, Allah SWT langsung memberi pelajaran. Saya bertemu dengan Ibu, yang saat itu sudah berumur 66 tahun, yang masih giat dan semangat bekerja. Padahal seharusnya Ibu sudah pensiun tahun lalu saat berumur 65 tahun. Tetapi, tempat Ibu bekerja (Kedutaan Eropa) meminta untuk melanjutkan bekerja selama setahun ke depan. Awalnya Ibu menerima dan masih bersemangat bekerja. Tetapi, setelah dijalani, Ibu merasa berat dan letih, terlebih karena harus naik kereta yang luar biasa bejubel setiap pagi. Jadi, tahun depan, Ibu memutuskan untuk pensiun.

ba68c4691810b52532b303939c158649

Image : Istimewa

Ada seorang Mbak yang berkomentar bahwa biasanya umur pensiun di Indonesia adalah 55 tahun dan Ibu berkata bahwa Kedutaan Eropa memiliki standar umur pensiun 65 tahun. Hal ini dikarenakan pendapat bahwa umur 55 tahun masih usia produktif untuk bekerja terutama untuk pria. Jika umur 55 tahun, seorang pria yang sedang giat bekerja tiba-tiba ‘dipaksa’ untuk pensiun, diperkirakan dapat menimbulkan stress. Biasanya bekerja eh tiba-tiba harus di rumah dan belum mempersiapkan kegiatan apapun sehingga dapat memicu stress. Hal inilah yang ingin dihindari. Untuk perempuan, tingkat stress mungkin tidak terlalu tinggi karena memang sudah ‘sewajarnya’ untuk perempuan berada di rumah.

Wah, kalau saya hitung perbandingan antara umur saya dan umur Ibu, yaitu 22 tahun dan 66 tahun, berarti umur kami berbeda 3 kali lipat. Saya yang stress karena gabut dan tidak ada teman ini belum ada apa-apanya dibandingkan Ibu. Pasti Ibu sudah melalui berbagai macam kejadian selama 3 kali lipat umur saya ini dalam dunia bekerja dan sampai sekarang beliau masih kuat juga semangat untuk berangkat kerja. Malu, dong..

Apapun alasannya, saya tidak berhak untuk terus mengeluh setelah bertemu dan mendengarkan cerita Ibu. Saya harus kuat, tegar, semangat dan siap dalam menghadapi apapun yang terjadi. Baiklah, saya harus selalu semangat! Terima kasih, Bu :)

Sudah berlalu kurang lebih 3 tahun sejak kejadian di kereta ini. Sepertinya sekarang Ibu sudah pensiun, ya.. Semoga Ibu sehat selalu dan menikmati hari-hari dengan lebih bahagia. Aamiin :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s