#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-5 : “Ruang Tentangmu”

Halo, kamu. Apa kabar?

Aku ingin bercerita tentang berbagai ruang yang memberi kenangan penuh akan dirimu. Mari kita awali saat masa kuliah.

Ruang waktu masa kuliah dipenuhi dengan dirimu. Benar, dirimu. Ingatkah kau saat masa kuliah pun belum dimulai tetapi kau sudah muncul memenuhi ruang kehidupanku?

Itulah permulaan dari ruang masa dan kehidupanku tentangmu.

Dan, kini, ketika ku bayangkan gedung perkuliahan itu, ruang waktu bersamamu mulai memenuhi. Dirimu yang berjalan menuju ruang kelas dan duduk di bangku pilihan. Muka yang mengantuk juga lelah terlihat dan kau pun mulai ingin cepat pulang. Tunggu dulu, oh ternyata kita masih di jam permulaan.

Waktu istirahat tiba dan ruang kantin menjadi persinggahan selanjutnya. Tidak ada yang kau beli, hanya ingin duduk saja di kursi kantin dan menyegarkan pikiranmu dari penatnya kuliah. Obrolan singkat bersama teman-teman membuat ruang waktu berlalu cepat.

Sore menjelang, tetapi kau belum ingin pulang. Entah mengapa kau selalu enggan untuk pulang cepat. Mungkinkah ruang rumahmu terlalu sempit untuk kau bernafas? Ruang rumahmu tidak memberimu kesempatan untuk melepas penat dan bahkan menambahnya? Aku tidak peduli. Ruang rumahmu, aku ucapkan terima kasih. Dengan begini, ruang waktu bersamamu akan semakin lama dan ruang kenangan kita akan terus bertambah.

Apa? Ingin mengerjakan tugas kelompokmu di tempat tinggalku? Mungkinkah kau merasa nyaman untuk mengerjakan tugas disitu meskipun pada kenyataannya kita tidak satu kelompok? Tak apa. Mari, aku sambut kau dan teman-teman semua untuk menambah semarak tempat tinggalku yang telah terpenuhi oleh bahagia karena masih bisa terus bersamamu.

Tempat tinggalku ini sebenarnya tidak terlalu luas, tetapi yang terasa adalah kelapangan ruang bagi semua. Hampir satu kelas berkumpul disini dan yang ku lihat hanya dirimu. Kamu masih bersemangat untuk mengerjakan tugas, walaupun aku telah mengantuk sangat. Aku ingin kalian segera berpindah dari ruang tempat tinggalku ini ke ruang rumah kalian. Aku lelah.

Kau pun tersadarkan akan rasa lelahku. Tanpa diawali aba-aba dan dengan sigap, ruang tempat tinggalku yang penuh ini segera kosong. Semua telah pulang. Tetapi, sedang apa kau masih disini?

Oh, Tuhan. Kau membantuku untuk merapihkan dan membersihkan tempat tinggalku yang memang merupakan kebiasaan setelah banyak orang berkumpul. Jangan dilanjutkan, mohon jangan, ruang hati ini sudah tak cukup lagi untuk dipenuhi bunga dan perasaan yang membuncah kepadamu. Ingin sekali ku hentikan ruang waktu dan menikmati ruang masa ini. Aku tidak ingin merubahnya menjadi ruang kenangan bersamamu. Ruang masa ini, ingin sekali ku jadikan sebagai ruang masa abadi untuk bisa melaluinya bersamamu.

Sudah, hentikan, kamu bisa pulang. Ujarku perlahan, menahan rasa ruang hati yang tak lagi tertahan. Biar aku saja, kamu bisa pulang. Ujarku, sekali lagi, dengan makin perlahan.

Tidak, duduk saja, bisa ku bereskan sendiri. Kau menjawab dengan tegas, seakan ruang rasa lelahmu menghilang tergantikan dengan semangat meyakinkan. Aku pun hanya bisa diam. Tolong, ruang waktu, ku mohon sekali saja turuti permintaanku. Biarkan ruang masa ini menjadi hanya milik diriku dan dirinya.

Ruang kenangan berkata lain. Tidak, bukan kuasamu, wahai ruang waktu. Ini telah menjadi kekuasaanku, ruang kenangan.

Dan, sesaat kemudian, kau pun pulang. Ruang kenangan menang. Ruang tempat tinggalku, telah menjadi salah satu ruang kenangan tentangmu.

bbeaf86ef19fabcb02cb662b1eb8cfc2

Tahukah kau, ruang maya tidak luput dari dirimu.

Ruang maya adalah satu-satunya kesempatan kita untuk dapat begitu banyak bercerita. Bebas membuka berbagai ruang kenangan baik itu bahagia ataupun duka. Ruang maya membuat kita seakan-akan menjadi orang yang berbeda. Bukan kamu dan aku, hanya ada kita.

Untuk sekian kali, aku melakukan permohonan kepada ruang. Wahai, ruang maya, tolong ijinkan aku untuk menikmatinya selalu bersama dirinya. Dirimu, ruang maya, memberikanku kesempatan untuk mengenal dirinya dan dirinya mengenal diriku. Ini tidak bisa kami lakukan di ruang nyata.

Ruang maya terlihat acuh.

Entah, aku tak peduli. Semua itu adalah urusan kalian. Saat ini memang terlihat seperti itu, mungkin sebentar lagi pun akan berakhir.

Lalu, OFF. Koneksi internet mati. Ruang maya menghilang bersamaan dengan ruang kesempatanku bersamanya.

Tibalah masa akhir dari ruang waktu masa kuliah.

Dirimu, tetap disana. Sendiri. Mungkin tanpa menyadari bahwa ada diriku disini menanti.

Ruang jarak diantara kita mulai terlihat dan aku tidak menyukainya. Aku ingin kembali kuliah, menjadi mahasiswa, menjalani hari-hari seperti biasanya dan melihat dirimu rutin setiap harinya. Tak bisakah?

Kumohon, ruang waktu masa kuliah, ijinkanlah untuk kembali mengulang dan terus mengulang masa-masa ini. Aku hanya ingin terus melihatnya setiap hari meskipun dia berjalan di depanku dan aku hanya melihat punggungnya. Aku ingin terus merasakan keberadaannya walaupun dia ada di kelas yang berbeda. Aku ingin seakan melewati waktu bersamanya, walaupun bukan di hari kuliah biasa. Tolong…

Ruang waktu masa kuliah menatapku iba.

Sayang, mohon mengertilah, kehidupanmu dan kehidupan dirinya harus terus berjalan dan bercerita. Aku tidak dapat menghentikannya meskipun aku ingin, aku tidak mampu. Biarkan kehidupannya berjalan dan yakinkan dirimu bila memang akan bertemu lagi dengannya, suatu saat, akan ada ruang waktu masa lain yang mengijinkan.

Oh, ruang waktu masa kuliah, tidakkah kau tahu bahwa aku bertahan disini hanya karena dirinya? Tidakkah kau tahu bahwa kekuatan utamaku melewati semua ini adalah darinya? Tidakkah kau tahu bahwa rasa bahagia dan duka ini tercipta karenanya?

Sayang, maafkan aku karena tidak dapat memenuhi keinginanmu. Aku selalu berdoa untuk kebaikan kalian berdua. Aku akan selalu berada disana bersama ruang kenanganmu yang terindah.

Begitu saja, ruang waktu masa kuliah berlalu dan meninggalkanku. Dia membawamu pergi dariku. Aku tidak ingin ruang kenangan, aku ingin ruang waktu masa kuliah. Aku ingin ruang waktuku bersamamu. Aku ingin dirimu.

Ruang kenangan sesungguhnya membantuku dengan sangat baik. Dia selalu membuatku teringat akan dirimu. Entah mengapa, yang terkenang selalu yang baik tentangmu. Bagaimana dengan yang buruk? Mungkin ruang kenangan pun akan kebingungan mencarinya. Dirimu, di ruang kenangan dan di mata maupun hatiku, tidak memiliki keburukan.

Mungkinkah, ruang waktu masa yang baru bersama dirimu akan datang menggantikan ruang kenangan?

2 thoughts on “#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-5 : “Ruang Tentangmu”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s