#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-4 : “Mengenal Cinta”

Dear, Cinta.

Sungguh. Satu hal di dunia ini yang begitu aku sesali adalah mengenalmu. Semuanya terasa berkali-kali lebih menyakitkan begitu aku mengenalmu. Akhir yang indah seakan fana meskipun berjuta film sering mengungkapkannya.

Akhir yang buruk? Jangan tanya. Aku sudah terbiasa untuk mencicipinya. Merasakan sensasi yang meskipun berbeda tetapi sesungguhnya sama, pedih.

Saat mengenalmu, duniaku terasa tak lagi sama. Hal sepele terasa begitu berarti bagiku. Senyum simple itu tertempa sempurna di hatiku. Dan, mataku hanya bisa melihat dirimu.

Dengan mengenalmu, aku memahami ternyata begitu banyak bentuk rasa. Pertemanan, persahabatan, keluarga, dan ikatan menciptakan rasa berbeda. Lalu, apa nama rasa untukmu? Aku tak tahu. Mungkin karena aku telah mengenalmu.

Mengenal dirimu, cinta, membuat kegiatan rutin adalah kesenangan semata. Bosan telah jauh meninggalkanku. Rutin membuatku terus bersama dirimu, terus mengenalmu. Kegiatan yang sama, setiap hari, setiap jam, takkan mengapa bagiku. Asal dirimu terus berada dalam jangkauan mataku. Yah… kau tahu, rutinitasku pun telah mengenal dirimu dengan baik.

Lalu, mengenalmu pun membuatku pintar berkhayal. Berandai dan berangan adalah spesialisasiku. Dalam andaiku, aku terus berada disisimu. Dalam anganku, kau dan aku akan selamanya bersatu. Mungkinkah, aku terlalu mengenalmu?

Tak terasa, mengenal dirimu menuntunku untuk belajar menggali kuburku sendiri. Aku terbiasa untuk merasa sakit, pedih, dan kesepian. Aku terbiasa untuk dapat menangis di tengah malam sendirian. Aku mengerti tips dan trik agar mata tak terlihat lebam. Aku menjadi mahir untuk tersenyum manis dan tertawa lepas penuh kepalsuan.

Mengenalmu mengajarkanku untuk banyak berlogika. Perasaanku? Biarkan saja, yang terpenting adalah perasaanmu. Logika terus memberitahuku untuk berpikir jernih dan bertindak berlawanan dari perasaanku setiap bersamamu.

Agar dia tidak menjauh darimu, begitu katanya.

Mengapa, aku pun heran dan bertanya.

Mungkin saja dia merasa tidak nyaman dengan perasaanmu yang sesungguhnya, jawabnya.

Belum selesai, logika kembali melanjutkannya,

Mungkin saja dia menganggapmu hanya sebagai teman terbaik dan tidak lebih.

Miris… dan aku pun menurut.

Pada akhirnya, mengenalmu hanya membawaku pada luka. Akankah ini selamanya? Akankah luka ini terus terbuka atau akan terobati dengan sendirinya?

Sungguh. Mengenal dirimu, cinta. Aku menyesal.

1293555008589572

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s