#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-2 : “Sahabatku”

Sahabatku, seandainya kamu mengetahui bahwa persahabatan kita ini hanyalah kedok agar aku dapat terus bersamamu. Agar dapat bercerita sepuas hatiku. Agar dapat mengobrol denganmu sepanjang waktu. Melihat matamu, memandang reaksimu dan merasakan keberadaanmu adalah modus operandiku.

Sahabatku, semoga kekasihmu tidak akan pernah tahu keberadaanku. Biarkan saat-saat ini, waktu-waktu ini dan keadaan-keadaan ini hanyalah menjadi milik kita. Cerita yang aku beri dan aku bagi, biarkan tersimpan hanya untuk kita berdua.

Sahabatku, mungkin itu juga alasan bagimu untuk selalu baik kepadaku bahwa kita satu nasib, satu kisah. Dengan alur cerita yang sama, takdir kita seakan-akan telah tertulis penuh rahasia sejak pertemuan pertama. Ketika kamu menceritakannya kembali dengan penuh semangat sedangkan aku sudah sedikit lupa, aku rasakan ada percik cinta. Oh, mungkinkah?

Sahabatku, lalu, mengapa mataku harus dan butuh untuk selalu melihat dirimu? Dengan gayamu yang senantiasa begitu dan senyum manis yang mengembang selalu, mataku ini sangat mudah bergantung padamu. Rasanya, satu hari melihatmu pun masih begitu kurang. Mataku dan kamu, apakah kalian bersahabat juga?

Sahabatku, percakapan kita adalah harta karunku yang paling berharga. Jika dikumpulkan, mungkin aku akan menjadi orang terkaya se-dunia. Percakapan kita, obrolan kita, cerita kita, oh sungguh… aku rela menukar semuanya untuk terus melakukannya. Aku berharap, kamu pun berharap hal yang sama.

Sahabatku, betapa kebaikanmu adalah ciri dari kekasih sempurna. Kamu menolongku saat yang lain pergi. Kamu membiarkanku istirahat dan semua kamu kerjakan sendiri. Kamu melihatku iba sangat saat kesedihan sedang menguasai diri ni. Kamu sungguh mengerti tentang diriku.

Sahabatku, dari semua tangis yang ada, tangis tentangmu dan untukmu adalah yang terlama. Bulir-bulir air mata itu terus mengalir meskipun aku berusaha untuk menghentikannya. Hati ini terasa sangat sakit walaupun aku sudah berusaha untuk tertawa. Dan, malam adalah saksi bisu atas semua tanda tanya. Mungkinkah? Mengapa? Seandainya? Aku lelah.

Sahabatku, kini, bagaimana kabar dirimu? Bahagiakah kamu dengan semuanya? Apakah kamu temukan sahabat baru?

Sahabatku, aku rindu.

2 thoughts on “#30HariMenulisSuratCinta Hari ke-2 : “Sahabatku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s