Review Film “Assalamu’alaikum Beijing” : You Will Always Be My ‘Chung-Chung’

Sekitar 2 sampai 3 minggu lalu, rasanya dunia saya cuma satu, Assalamu’alaikum Beijing!

Saya sudah lama menjadi penggemar setia Bunda Asma Nadia dan Helvy Tiana Rosa. Karya mereka bertumbuh bersama saya dan selalu menjadi pemicu semangat untuk membuat deretan karya yang inspiratif. Menjadi follower mereka adalah kewajiban utama saya. Hanya satu yang saya tidak tahu, ternyata menjadi follower mereka sangat racun! Hih!

Bagaimana tidak racun, 2 sampai 3 minggu lalu rasanya seluruh isi timeline twitter saya berisi tentang “Assalamu’alaikum Beijing”. Saya memang pernah melihat novel karya Asma Nadia ini di toko buku, tetapi tidak saya beli dan belum pernah baca. Semakin lama, rasa penasaran pun semakin muncul. Sebenarnya, sebagus apa sih film ini? Sebarapa menyentuhkah novelnya? Akhirnya saya memutuskan untuk menonton filmnya.

Sebagai teman setia buku, saya sering emosi dan menyalahkan kalau film yang diadaptasi dari buku tidak sesuai dengan apa yang saya baca. Oleh karena itu, saya seringkali memilih diantara membaca bukunya saja atau menonton filmnya saja. Untuk “Assalamu’alaikum Beijing” ini, saya memutuskan untuk HANYA menonton filmnya saja. Pada awalnya.

Karena belum ada teman bareng untuk nonton di bioskop, saya sudah tidak sabar! Pertahanan saya runtuh dan akhirnya saya membeli novelnya. Saya selesai membaca hanya dalam 2 hari. Esoknya, saya menonton filmnya bersama seorang teman. Jadi, saya membaca novel dan menonton film “Assalamu’alaikum Beijing”! Wah, siapa nih yang harus disalahkan? :)))

VroN_Kf4

Image : Assalamu’alaikum Beijing

You Will Always Be My ‘Chung-Chung’

Jika belum menonton film “Assalamu’alaikum Beijing”, saya sarankan untuk segera menontonnya sebelum turun layar. Banyak sekali inspirasi yang bisa diambil dari film ini, terutama untuk mereka yang sulit untuk move on. Yakinlah selalu bahwa jalan Allah SWT pasti ada untuk mereka yang selalu bertawakal.

Karena membaca buku dan menonton filmnya, saya terbawa untuk membandingkan. Keduanya sangat berbeda! Dari sisi alur, plot, dan jalan cerita, sebagian besar berbeda dari buku. Filmnya serasa memiliki ‘dunia sendiri’. Tapi, walaupun begitu, saya tidak emosi dan menyalahkan. Mengapa?

Karena, setiap adegan penting masih sangat kental dan dominan. Pesan yang disampaikan pun tetap ada, tanpa terkesan menggurui. Semua pesan diungkapkan dengan halus dan rapih, seakan memberikan teladan.

Untuk penokohan, saya paling suka sahabat Asma, Sekar (diperankan oleh Laudya Cynthia Bella). Karakternya di film semakin lucu, lebih lucu dari karakter di buku. Peran Asma sendiri dibawakan dengan sangat baik oleh Revalina S.Temat. Dalam balutan busana Muslimah, keduanya membawakan peran dengan maksimal dan terlihat sangat cantik. Semoga hidayah untuk menutup aurat dapat menghampiri mereka berdua. Baru-baru ini banyak media yang memberitakan bahwa Laudya Cynthia Bella memutuskan untuk berhijab. Alhamdulillah.. Bismillah.. Semoga istiqomah, Bella :)

Untuk Zhongwen yang diperankan oleh Morgan Oey (sebelumnya dikenal sebagai anggota Boy Band SMASH), cukup menyenangkan melihatnya bersikap lembut, manis, dan mempelajari Islam dengan teguh. Saya tidak tahu apakah Morgan memang seorang Muslim atau bukan, tetapi karakternya sebagai seorang Muslim diperankan dengan baik. Karakter Zhongwen juga sering membuat saya dan teman yang nonton bareng saling colek plus tertawa kecil saat melihatnya adegan romantisnya dengan Asma. Saat membawa novel, saya membayangkan seorang penduduk China asli sebagai Zhongwen. Memang agak tidak sesuai bayangan, sih.. tapi, tidak membuat kecewa, kok :)

Dan, yang paling penting dari film “Assalamu’alaikum Beijing” adalah melihat pemandangan The Great Wall of China! Subhanallah… Hebat dan indah sekali! Mereka benar-benar menjalani syuting di Beijing dan tempat lainnya di daratan China. Suasananya bukan dibuat-buat dan benar-benar real. Inilah sisi paling positif dari film ini.

Akhirnya, kalau belum nonton, segera nonton “Assalamu’alaikum Beijing” dan temukan mengapa saya memberikan judul review film ini dengan, You Will Always Be My ‘Chung-Chung’. Because, yes you are :)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s