Pembeli adalah [bukan] Raja

Sering kita dengar kalimat seperti ini, “Pembeli adalah Raja”, setujukah kamu?

Awalnya saya sangat setuju. Sebagai anak dari orang tua yang [pernah] memiliki toko dengan banyak customer, saya berusaha semaksimal mungkin untuk melayani “Sang Raja”. Segala permintaannya saya turuti, semua hinaannya saya ampuni, hingga menciptakan suatu karakter baru dalam diri saya. Karakter tersebut selalu muncul setiap saya berbelanja yaitu, menjadi seorang “Raja”.

Setiap ada toko yang tidak menyediakan kembalian receh dan malah bertanya, “Maaf, ada uang kecilnya saja?” atau malah menyuruh, “Bisa uang kecil atau pas saja?”

Saya tidak terima! Saya selalu komentar, “Gimana sih, disiapin dong kembaliannya. Jadi bikin ribet!”

Mengapa saya komentar seperti itu? Karena saya tahu betapa kelimpungannya karyawan toko saya saat pagi hari, pergantian shift dan malam hari, untuk menukar sejumlah uang untuk kembalian. Bahkan orang tua saya tidak pernah lupa untuk selalu mengingatkan.

Betapa, pembeli adalah “Raja”.

Saya melihat dan memahami hal tersebut melalui “uang kembalian”. Tetapi, satu hal yang tidak saya pahami, tidak semua orang dan bisnis itu sama. Semuanya memiliki perbedaan.

Lalu, karakter “Raja” kembali muncul saat saya melihat stok produk yang kosong. Maka, seketika saya akan berkomentar, “Ini niat jualan ga sih?!?!?!” Tanpa memikirkan apa penyebabnya atau permasalahan yang mereka alami sehingga stok produk menjadi kosong, saya telah melakukan judgement bahwa mereka tidak memiliki niat yang kuat sebagai penjual. Saya hanya berpikir bahwa mereka tidak melayani pembeli dengan baik, tidak melayani “Raja” dengan baik.

Sungguh, karakter yang benar-benar membuat saya sombong.

Semua itu berubah ketika toko saya mengalami guncangan.

Tidak ada lagi kembalian yang mudah karena memang pemasukannya pun sulit. Apa yang mau ditukar?

Banyak produk yang stoknya kosong karena memang kami tidak dapat membelinya.

Kesombongan saya sebagai seorang “Raja” luntur. Senjata makan tuan!

Maka, saat itu, sayalah yang mendapat hinaan-hinaan yang sering saya lontarkan sebagai “Raja”.

Wajar bagi sang “Raja” untuk mengungkapkan pendapat bahkan hinaannya tapi mereka tidak tahu apa saja yang harus kami, penjual, lalui untu melayani mereka. Pikiran seperti itu mulai muncul dalam diri saya. Karakter “Raja” saya perlahan lenyap, berganti karakter yang seimbang.

Pembeli memang ditakdirkan untuk menjadi “Raja” tetapi tidak untuk memerintah. Seperti karakter “Raja” yang dicintai rakyat pada umumnya, pasti mereka adalah seorang yang pengertian, penuh pemahaman, rendah hati, penyayang dan tidak egois. Itulah “Raja” sesungguhnya.

Dan, penjual, yang dikodratkan sebagai “pelayan Raja” pun tidak seharusnya selalu menjilat sang “Raja”. Penjual harus memiliki harga diri. Memohon maaf ketika melakukan kesalahan dan berterima kasih saat mendapatkan pujian, bukan selalu tunduk dan menurut.

Pembeli adalah “Raja” tetapi harga diri sebagai penjual pun berharga.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s