My Hijab Story: 12 Tahun Bersama Hijab

Saya menggunakan hijab sejak pertama kali haid. Dengan bersekolah di Sekolah Dasar Islam Terpadu, saya mendapatkan bekal ilmu agama yang lebih dari cukup. Pemahaman akan menutup aurat, terutama bagi Muslimah yaitu menggunakan hijab telah saya pahami dengan baik. Alhamdulillah, hidayah pun selalu menyertai saya karena tidak sedikit pula teman-teman SD saya yang tidak istiqomah menggunakan hijab. Mereka melepasnya saat lulus SD, saat SMP ataupun SMA. Sehingga sejak pertama kali, hingga saat ini, saya tetap dan akan terus menggunakan hijab. Insya Allah.

Sebagai pengguna hijab sejak awal, bukannya tanpa halangan seperti para pengguna hijab baru. Masa ABG, usia SMP, adalah ujian terberat dalam masa penggunaan hijab saya. Sebagai seorang ABG, saya tidak bisa bebas memadupadankan style dan gaya busana karena hijab. Apalagi saat itu model pakaian untuk seorang ABG Muslimah masih sangat jarang. Model pakaian Muslimah saat itu hampir semuanya adalah untuk mbak-mbak dewasa dan ibu-ibu. Itulah yang membuat saya tidak percaya diri. Saya sempat merasa kesal. Hanya karena hijab, saya tidak bebas bergaya seperti yang lain. Saya merasa model pakaian saya itu-itu saja dan ketinggalan jaman.

Beruntungnya saya, selalu berada di lingkungan Islam. Sekolah saya, SD dan SMP adalah Sekolah Islam Terpadu. Keluarga saya pun adalah keluarga yang kental dengan ilmu Islam, terlebih lagi Ibu saya telah menggunakan hijab sejak awal kuliah. Meskipun saya tidak menyampaikan curahan hati secara khusus, saya coba untuk selalu berpikir tenang dan ikhlas dalam menggunakan hijab. Alhamdulillah, masa krisis percaya diri itu berakhir dengan kemenangan saya. Hijab tetap setia saya gunakan.

Saat SMA berlalu dengan aman bersama hijab. Begitu memasuki dunia perkuliahan, semua terasa sangat berbeda. Sebagai seorang anak yang terbiasa dengan lingkungan homogen, sejak SD sampai SMA berada di Sekolah Islam Terpadu, saya terkejut luar biasa. Dunia perkuliahan terlalu heterogen. Berbagai tipe manusia dengan latar belakang dan agama berbeda-beda berkumpul disana. Dunia perkuliahan menciptakan krisis hijab saya kembali.

Krisis hijab bukan lagi berupa malu dengan model pakaian yang saya gunakan tetapi lebih kepada penerimaan lingkungan. Tidak semua orang memandang sama seorang wanita dengan hijab. Ada yang memandang dengan hormat, biasa saja, bahkan melecehkan. Saya selalu berusaha untuk percaya diri dengan hijab. Tetapi, begitu satu orang saja melihat saya dan hijab saya dengan tampang jijik seolah saya makhluk paling rendah, saya sangat down. Sedih. Saya selalu bertanya pada diri sendiri, apakah saya melakukan sesuatu yang salah atau apakah saya pernah menyakiti hatinya. Saya tidak pernah tahu mengapa dia melihat saya dengan tatapan seperti itu.

Saya mencoba menerima dan memahami dirinya. Saya tetap berteman, meskipun tidak terlalu dekat. Saya berusaha untuk menempatkan diri sebaik mungkin dengan dia dan teman-teman lainnya. Saya mencoba untuk menunjukkan bahwa meskipun saya menggunakan hijab, saya tetaplah seorang manusia biasa. Bisa berteman dengan siapapun, bisa menerima keadaan apapun. Tidak perlu ada rasa jijik atau bahkan takut berteman dengan saya. Hijab tidak mencirikan diri sebagai Islam fanatik, sehingga saya bukan Islam fanatik. Saya beserta hijab adalah bagian dari ketaatan dalam agama. Ini adalah urusan saya dengan Sang Pencipta, Allah SWT, bukan dengan manusia. Jadi, tidak ada yang perlu diintimidasi dan ditakutkan dari diri saya sebagai pengguna hijab.

Semua usaha saya, semua persepsi yang coba saya bangun, semua citra yang saya coba sampaikan, pada akhirnya membuahkan hasil. Alhamdulillah, semua teman kuliah saya dapat menerima saya apa adanya. Dapat menerima seorang Talita bersama hijab yang selalu bersamanya.

Hal itu terbukti saat kepergian kami ke Jerman. Kampus memberi kesempatan pada saya dan teman-teman untuk mendapatkan pengalaman kuliah dan bekerja di Jerman selama tujuh bulan. Meskipun saya berhijab, teman-teman tetap mengajak saya bermain dan melewatkan waktu bersama mereka. Walaupun terkadang mereka melewatkan waktu dengan pesta. Saat itu, saya tetap ikut pergi bersama teman-teman tetapi saya hanya duduk dipojok sementara teman-teman berpesta sampai mereka terpuaskan. Apabila ingin menghabiskan waktu di asrama, saya tetap bergabung dan diajak bergabung oleh teman-teman. Mereka tidak pernah risih dan mempermasalahkan hijab saya. Justru, dari tindakan mereka yang saya tangkap, mereka merasa aman saat saya bergabung. Keadaan akan terkendali dan tidak akan ada kejadian yang tidak menyenangkan, saat saya bergabung. Alhamdulillah, saya merasa benar-benar bahagia. Tidak ada lagi pandangan jijik, sinis dan merendahkan. Semua itu adalah buah dari kesabaran dan tentunya, anugerah Allah SWT.

Untuk teman-teman Muslimah yang ingin menggunakan hijab tetapi masih ragu, coba tenangkan dirimu dan serahkan diri pada Allah SWT. Dia-lah yang memberimu hidup, Dia-lah Sang Pencipta. Hijab itu bagian dari agama lho, ibadah kita, ibadah terbaik kita sebagai seorang Muslimah.

Saya sering dengar alasan, “Mau sih pakai hijab, mau banget. Aku juga tau itu adalah ibadah tapi aku mau hijabin hati dulu. Kalau udah hijab luar tapi hati masih berantakan, sama aja bohong, kan?“ Menurut saya, itu adalah pendapat yang salah. Salah besar. Salah banget!

Tidak seharusnya kita me-nomor-dua-kan ibadah. Logikanya, kalau kamu sudah hijabi ‘luar’, secara otomatis ‘dalam’ akan terhijabi. Dengan hijab, tindakan buruk kita, langgaran kita terhadap perintah Allah SWT dan kelalaian kita akan tertahan. Begitu kita berhijab, kita akan merasa malu saat lalai dan secara otomatis mengingatkan diri kita sendiri, misal “Aduh kok gw ketinggalan Shalat Asar ya? Padahal gw pakai hijab, malu dong sama hijab. Malu sama Allah SWT” begitu lho maksudnya..

Hati kita, akan terhijabi seiring dengan hijab yang menutupi raga kita. Kalau kata pepatah, “Sekali dayung, beberapa pulau akan terlampaui” Dengan hijab raga, kita akan mendapatkan bonus hijab hati dan bonus-bonus lainnya yang tidak mampu kita bayangkan sebagai seorang manusia. Saat kita menuruti Allah SWT, Dia akan membalas kita dengan berlipat-lipat. Serahkan diri, berikan yang terbaik pada-Nya.

Alhamdulillah, tahun 2012 ini, tepat sudah 12 tahun saya bersama hijab. Suka duka datang silih berganti bersama hijab. Satu yang saya yakin. Allah SWT selalu bersama saya di setiap langkah. Banyak kejadian yang saya alami sulit untuk dipahami dengan logika dan nalar manusia. Semua itu saya simpulkan sebagai hadiah dari Allah SWT. Insya Allah, semua Muslimah akan mendapat hidayah-Nya dan mulai berhijab. Termasuk, kamu :)

Thank you hijab for being 12 years with me :)

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s