Menunggu Lampu Hijau

Jam Gadang tidak terasa lagi keindahannya. Tak ada gagah terlebih wibawa, yang aku dengar hanya tawa renyah mengejek dari jam raksasa ini.

“Hei.. mau apa kau, masih ada disini? Kau sudah berada disini hampir lima jam. Menunggu seseorang? Atau menangisi masa lalu yang kelam?”

“Diam kau, Jam Gadang! Jangan sampai rasa hormatku kepadamu hilang karena tingkahmu yang menyebalkan. Aku benci mendengar tertawamu yang mirip kakek tua.”

“Apa masalahmu? Aku toh memang sudah tua. Aku sudah banyak melihat perubahan masa dan manusia. Menunggu, termenung dan menangis sepertimu ini, banyak sekali yang melakukannya!”

“Lalu, kenapa? Hak dari seorang manusia untuk menumpahkan segala perasaannya.”

“Jangan kepadaku. Tumpahkan saja kepada dirinya.”

“Maksudmu apa?”

“Aku tahu banyak kemungkinan dari masalahmu. Jangan coba-coba untuk menyembunyikannya dariku.”

Aku diam. Tawa renyah dari Jam Gadang tidak lagi terasa mengejek dan menyebalkan. Inilah sesungguhnya yang aku cari, teman mengobrol dan berbagi.

“Kau tahu, Jam Gadang. Aku sedang menunggu lampu hijau.”

“Pergi saja kau kesana, ada banyak lampu hijau. Jangan seperti orang susah.”

“Aku sedang menunggu lampu hijau dari orang tuanya, untuk merestui pernikahan kami. Aku lelah untuk selalu berlari.”

#15hariMenulisFF
June, 12th 2012
Depok, 10.08 WIB
hari 1: Menunggu Lampu Hijau – Jam Gadang

2 thoughts on “Menunggu Lampu Hijau

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s