Talita Zahrah Fauziyyah, ST, B.Eng

Periode skripsi adalah periode terberat dalam hidup saya. Masa dimana semua hanya berputar sekitar diri sendiri. Tidak ada masalah dengan yang lain, hanya diri sendiri. Biasanya dengan kelompok kita dapat berbagi tetapi di skripsi harus dikerjakan sendiri. Periode skripsi ditutup dengan deadline dan diambut dengan jadwal sidang.

Akhirnya, tibalah hari untuk sidang. Pagi hari sebelum sidang, saya tweet-kan seluruh doa:

Ya Allah, bagaimana cara membuat bangga orang tua, orang-orang yang menyayangiku dan aku sayangi? Izinkan aku untuk memberikan kebanggaan itu hari ini, Amin..

Sebenarnya saya takut. Saya takut tidak siap, saya takut gagal, saya takut tidak bisa membuat bangga. Saya juga sangat berharap bisa memberikan yang terbaik di kesempatan terakhir ini. Pada akhirnya, saya hanya bisa tawakal. Usaha sudah, do’a apalagi, Insya Allah hasilnya adalah yang terbaik.

Sidang berjalan tidak sesuai perkiraan. Entah saya grogi, gugup atau memang tidak maksimal. Para penguji pun mengatakan bahwa seluruhnya ada di dalam kepala saya, hanya saja saya tidak bisa mengeluarkan dan menjelaskannya dengan baik. Waktu habis dan saya dipersilakan keluar ruangan untuk menunggu hasil.

Saya dipanggil lagi untuk diberitahu hasil sidang. Salah satu penguji mengatakan bahwa saya memiliki potensi dan jika saya mengembangkan potensi tersebut, maka akan menjadi sesuatu yang sangat baik bagi saya kelak.

Salah satu penguji lainnya mengatakan saya kurang motivasi dalam mengerjakan skripsi. Saya tidak tahu itu benar atau salah tetapi, saya sudah berkorban, bangun semalam suntuk, tidur pagi, mempelajari hal yang benar-benar baru tanpa ajaran siapapun, mengurangi bersenang-senang dan beroda untuk keberhasilan saya sendiri setiap saat. Itu belum cukup termotivasi? Mungkin pendapat penguji benar karena teorinya adalah hasil menunjukkan proses. Saya terima, dengan terpaksa.

Para penguji menyatakan bahwa saya lulus, dengan nilai double degree yang baik. Tetapi, hasil yang saya dapat untuk sidang benar-benar jauh dibawah perkiraan. Hasilnya buruk. Jelek. Saya sedih. Meskipun saya lulus tetapi saya tidak bisa memberikan kebanggaan itu sampai pada kesempatan terakhir. I’m PASSED but, it feels like I’m FAILED.

Saya langsung menangis di hadapan para penguji. Salah satu penguji dengan penuh kebapakan menggenggam erat tangan saya dan berkata,

“It’s okay. You’re Passed. It’s okay. Don’t be sad..“

Teman-teman pun langsung memberikan seluruh dukungan terbaik mereka. Segala cara mereka lakukan untuk menghibur saya. Mulai dari perkatan yang baik, usapan, pelukan, tepukan di pundak, tissue, sampai ucapan menyerah dan tidak tahu harus berbuat apalagi untuk menghibur saya,

“Lo lulus kan, tal? Bersyukur dong. Apapun hasilnya, lo tetep lulus!”

“Iya tapii.. nilainya jelek. Gw sedih..”

“Nih ya, mending lo lulus sekarang nilai jelek atau lulus nanti nilai bagus?”

“Sekarang..”

“Yaudah, lo udah lulus sekarang. Beban lo udah lepas. Bagus kan, udah lulus..”

Rasa bersyukur dan bahagia perlahan mulai muncul seiring dengan pembelajaran untuk ikhlas dan sabar. Perbaikan perasaan pun terbantu dengan seluruh ucapan selamat dan syukur dari teman-teman, saudara-saudara, teman-teman orang tua, sampai guru SD-SMP-SMA.. Saya terharu. Tetapi, semua sedih benar-benar hilang ketika membaca ucapan selamat dan syukur dari Ayah dan Bunda.

Hampir satu jam setelah selesai sidang dan mendapatkan hasil, saya baru mengabari Ayah dan Bunda. Terlalu sedih, malu dan merasa tidak bisa dibanggakan, saya hanya bisa mengetik sms:

Bun, Yah, aku lulus.. Tapi maaf ya ga dapet A..

Benar-benar gagal. Mata sudah perih, muka sembab, hari yang penuh dengan tangisan. Tetapi, semua kesedihan hilang seketika saat melihat reaksi mereka.

Ayah membalas sms saya:

Selamat ya kakak.. Gapapa sayangku nanti di dalam hidupmu saja yang dapet A ya..

Selamat ya kakak.. Ayah always loves you no matter what you are..

Bunda juga meng-update status facebook-nya:

Alhamdulillah Yaa Rahman..

Talita Zahrah Fauziyyah,

13 Juni ’89 Bunda melahirkanmu,

20 Juli ’91 Bunda menyapihmu,

27 Juli ‚11 kau lewati ‘thesis defense’mu

dan lahir seorang Sarjana Tehnik Industri baru di Indonesia, dari rahimku..

Barakallah untukmu ‘gadis kecilku‘

Bunda Always Loves You..

Alhamdulillah….

Jadi, dunia perkuliahan selesai. Gelar pertama di dapat. Apapun yang dikatakan mereka tentang saya, mungkin semua benar dan salah. Mohon tunggu, biar saya buktikan di waktu yang tersedia ini.

Finally, hello world, this is me!

Talita Zahrah Fauziyyah, ST, B.Eng :)

Depok, July 29th 2011

5.15 pm

2 thoughts on “Talita Zahrah Fauziyyah, ST, B.Eng

  1. litaaaa! nangis bombay deh eke baca ini huhuu so sweet bgt ayah bundamuu. selamet ya taa~! semoga bisa terus ngebanggain ayah bunda n agama :*

    Like

  2. hahahahaha bukan nangis karena ke-bego-an gw kan? sorry yeee, temen lu ini pinternya mentok segitu doang hahahaha *miris*
    iyaa pas nulis ini gw juga nangis2..
    thanks ya for, thanks banget buat doanya :*

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s