I Lost My Wallet

Tepat setahun yang lalu, gw sangat bersemangat untuk melihat festival besar ala Deutschland di Köln, NRW. Semangat banget, sampai ga ikut pergi untuk menikmati semua festival sebelumnya di kota-kota kecil dekat Soest.

Berangkat pagi dengan tujuan sampai disana siang hari karena dibutuhkan waktu perjalanan kira-kira 3.5 jam. Cuaca dingin, salju dimana-mana, mungkin suhu masih minus. Gw pergi sama Kiky (teman sekamar), Rangga dan Beni Galang (teman baru, Indonesian but lives in Germany), Cathy (cewe Jerman but she speaks English fluently) and Micha Sauerland  (cowo Jerman and can’t speaks English at all, hahaha sorry michaa).

Kita ber-6 pergi dengan kereta. Perjalanan lama dan panjang. Menurut gw, kita sempet nyasar karena kita naik kereta yang aneh dan melewati jalan yang aneh pula. Anyway, kita have fun dan menikmati perjalanan.

Tetapi, keadaan berubah ketika gw membeli makan siang.

Kita berencana untuk membeli makan terlebih dahulu lalu kemudian menikmati festival. Rencana ini adalah rencana mendadak karena sebelumnya kita sudah keluar dari Köln Hauptbahnhof dan men-survey keadaan festival. Ramai. Super Ramai! Orang dimana-mana. Jalan pun sulit. Baik di Hauptbahnhof ataupun di kota Köln sendiri. Kebanyakan jalan ditutup, tidak boleh dilewati, karena merupakan jalur festival.

Kita beli makan siang di Burger King. Gw beli paket burger gitu lah –burger,french fries,cola- mencoba untuk tidak kelaparan di suasana hectic festival. But, what I’ve got? I can’t eat my burger right away because I LOST MY WALLET. Oh my God, that was my first shocking moment in Germany and it happened at the cashier of Burger King. Mbak kasir ga mau tau dan meminta gw untuk segera bayar. Dia juga melototin gw dengan tampang, ‘Plis deh lo, punya duit ato ga?’ dan yang gw bisa lakukan cuma panic. Gw cuma bisa bergumam, “Kiky, kiky, dompet gw ilang”

Setelah membayar burger, Kiky mencoba untuk menenangkan gw. Mungkin dibagian depan tas atau di kantong lo, begitu katanya. Tapi ga ada. Positif, dompet gw ilang! I didn’t have cash. I didn’t have any money. I just wanted to cry.

Rangga dan Beni datang. Setelah gw ceritakan, penuh perhatian dan rasa simpati, mereka berbagi tugas dengan Cathy untuk menemani gw lapor polisi. Cathy bertugas sebagai translator. Dengan kualitas bahasa Jerman gw yang rendah, ditambah dengan baru 2 minggu hidup di Jerman dan belum terbiasa dengan bahasa Jerman, sulit bagi gw untuk menjelaskan apa yang terjadi. Untung ada Cathy. She asked me in English, I answered it and she explained it to the police in German.

Gw langsung pulang ke Soest, ditemani Kiky. Berangkat ke Köln dengan semester ticket (gratis, tidak perlu membeli tiket) tapi gw pulang dengan biaya tiket 16 euro. Tragis. Ngutang pula ke Kiky, huftt..

Gw ga nangis. Mau di sok-sok sedih pun gw ga nangis. Gw cuma benci sama diri gw sendiri, kenapa begitu bodoh, tidak hati-hati, ceroboh. Gw hanya diam dan mencoba menenangkan diri.

Gw juga memutuskan untuk melaporkan hal ini ke perwakilan penanggung jawab mahasiswa di Soest. Tapi entah kenapa dia ga menjawab berita panik gw. Selain sms ke nomor dia yang gw punya, gw coba hubungi dia dengan berbagai macam cara. Cek nomor dia ke banyak teman, titip untuk disampaikan via sms ataupun bbm. Gw pasrah. Mungkin dia bete dengan kecerobohan gw. Tapi, gw hanya butuh dukungan dan semangat dari dia. Janji untuk bantuin semua masalah kehilangan gw. Meskipun hanya janji, itu pun sudah lebih dari cukup.

Sampai di penginapan,  cerita dompet gw hilang sudah menyebar. Gw ga tau gimana caranya tapi yang jelas teman-teman langsung bertanya. Semuanya gw ceritakan dengan gamblang dan penuh penyesalan, bukan kesedihan. Semua menerima berita dan cerita gw dengan prihatin. Penuh perhatian, mereka memberi gw semangat untuk bisa sabar dan ikhlas. Mereka mengerti beratnya kehilangan dompet disaat kita baru hidup 2 minggu di tempat baru, lingkungan baru dan negara baru.

Hanya satu yang marah. Dia perwakilan kampus gw dari Indonesia. Gw merasa bahwa gw wajar dimarahi tapi bukan begitu caranya. Dia marah dengan cara yang aneh, yang men-judge, yang tidak ada rasa perhatian dan pengertian. Ini yang membuat gw lebih sedih.

Dua orang perwakilan kampus gw yang seharusnya gw harapkan untuk bisa membantu, malah cuek dan marah. Jujur, gw menyesal harus cerita ke mereka.

Rasa kecewa itu menuntun gw untuk menumpahkan air mata. Mungkin air mata yang harusnya keluar sejak di depan cashier Burger King. Gw merutuki diri gw sendiri. Kecewa dengan reaksi yang mengecewakan. Cathy yang berbeda kewarganegaraan dengan gw saja mau membantu dengan penuh perhatian tetapi mengapa mereka yang bertanggung jawab untuk kehidupan gw selama di Jerman malah cuek?

Hikmah yang bisa gw ambil setelah pengalaman kehilangan dompet di negara orang, baru tinggal 2 minggu, home sick dan kecewa:

  • Meskipun berbeda-beda (agama, kewarganegaraan, warna kulit), jika ada yang dalam kesulitan, kita harus segera membantu. Dengan perhatian dan saran yang sesuai.
  • Kita tidak boleh selalu bergantung pada orang lain. Mungkin memang dia bertanggung jawab atas diri kita tetapi bisa saja dia tidak bisa membantu apapun dan malah membuat susah. Kita harus bisa berdiri sendiri, percaya akan kemampuan kita.

2 thoughts on “I Lost My Wallet

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s